Siklus yang Spiral
Tractatus Ayyew
Buku Kedua | Prinsip Kebumian No. 1
1,465 kata
Tractatus Ayyew
Buku Kedua | Prinsip Kebumian No. 1
1,465 kata
PEGUNUNGAN YANG DISELIMUTI HUTAN LEBAT DI LUZON UTARA telah lama menjadi rumah bagi orang-orang Igorot. Sepanjang generasi yang tak terhitung jumlahnya, masyarakat Igorot hidup bersama siklus makhluk-makhluk lain yang berbagi ruang dengan mereka. Bagi warga Igorot, waktu untuk menanam bibit padi pertama ditandai dengan kembalinya burung migran kilin. Lalu, ketika tanaman padi telah menguning dan burung kilin kembali terbang ke hutan, tibalah saat panen. Dan kemudian… selalu ada sedikit lebih banyak lagi. Sebab, setelah padi dibawa pulang untuk dijemur, tiba waktunya bagi sebuah ritual yang sama tuanya dengan tradisi panen itu sendiri. Satu per satu batu dikumpulkan dari sungai untuk memperkuat sisi-sisi bawah. Batu demi batu, petak sawah disusun kembali agar lebih baik menangkap dan menyebarkan aliran air hujan yang turun dari lereng bukit. Musim demi musim, sawah itu bukan hanya menjadi rumah yang lebih baik bagi padi, tetapi juga rumah bersama yang semakin baik bagi makhluk lain: kepiting, katak, siput, ikan lumpur, dan banyak lagi. Dari generasi ke generasi, kesuburan dan hasil panen meningkat. Masyarakat Igorot berkembang. Ekosistem sungai dan hutan pun tumbuh subur. Dan, burung kilin selalu kembali. Lalu siklus berikutnya berputar lagi — selalu sedikit lebih hijau dari sebelumnya.⁶³
SAAT KITA BERUPAYA menghijaukan cara hidup modern kita, banyak yang dapat kita pelajari dari cara orang Igorot mengelola energi dan materi. Di jantung budaya mereka yang berpusat pada relasi keserumpunan dengan makhluk lain, terdapat suatu etos ekologis dari masa lampau yang dapat membantu kita memahami terobosan-terobosan terbaru dalam teori termodinamika dan ilmu tentang planet. Seperti yang akan kita lihat, pola pada Bumi dan cara hidup Igorot memiliki resonansi geometris. Keduanya menuntun proses mereka menuju siklus yang spiral dan memperkaya. Pola vorteks ini bukan hanya menjelaskan bagaimana masyarakat Igorot secara bertahap memperkaya ekosistem mereka — tetapi juga bagaimana planet kita yang dahulu tandus perlahan menjadi hijau. Dengan bantuan Silabumi pertama ini, kita dapat mulai melihat kelemahan mendasar dari proses modern kita yang linear maupun sirkular — dan sekaligus melihat sekilas jalan hijau ke depan.
Untuk memulai, kita perlu kembali ke asal-usul tata surya kita.
Seperti kita lihat dalam Kisah Kosmis, planet-planet yang kini mengelilingi Matahari terbentuk lebih dari lima miliar tahun lalu. Ketika setiap planet menggumpal dari puing-puing bintang yang melayang di angkasa, masing-masing memperoleh pola kinetik energi dan materi yang khas. Hingga saat ini, kombinasi unik setiap planet — unsur-unsurnya, orbitnya, bulan-bulannya, magnetosfernya, dan lain-lain — terus berkembang. Karakter kosmologis ini meresapi dan menuntun seluruh proses pada sebuah planet, terutama prosesnya yang berulang: siklus-siklusnya. Siklus itu cenderung berkembang dalam pola yang khas bagi setiap planet.
Ketika versi awal Venus, Mars, Bumi, dan planet-planet tetangganya yang lebih jauh berputar mengelilingi Matahari, mereka terus menerima aliran energi surya yang tak pernah berhenti. Seperti hujan yang turun di lereng gunung lalu mengalir menjadi anak sungai, sungai, dan jeram, energi Matahari memancar ke permukaan setiap planet dan mengalir ke berbagai siklus planet tersebut — aliran atmosfer, arus laut, dan pergeseran tektonik. Ketika tanah, cairan, dan gas planet-planet itu berputar, siklus yang terbentuk didorong oleh hukum termodinamika. Dengan cara yang unik pada setiap planet, energi Matahari yang terus datang lantas tersebar⁶⁴ dan, selama berjuta-juta tahun, siklus dan karakter masing-masing planet pun berkembang.
Di bumi, satu demi satu adaptasi entropik mulai terakumulasi. Seperti warga Igorot yang setiap musim memperkuat dinding teras sawah mereka dengan batu-batu baru, setiap siklus Kebumian perlahan cenderung menuju konfigurasi materi yang semakin baik dalam menangkap energi — menambahkan satu atom di sini, satu ikatan kimia di sana. Seperti teras-teras sawah yang menangkap, memecah, dan menyebarkan aliran hujan yang turun, siklus-siklus Bumi melakukan hal yang sama. Ketika satu siklus terpecah menjadi seribu, dan yang seribu menjadi sejuta, kehidupan mulai muncul. Perlahan namun pasti, siklus kehidupan menyesuaikan putarannya menuju konfigurasi materi yang semakin terkonsentrasi dan penyebaran energi yang semakin baik.⁶⁵
Akhirnya, Bumi menghijau.
Saat para fisikawan dan filsuf modern berupaya menjelaskan kemunculan kehidupan dalam kerangka termodinamika,⁶⁶ warga Igorot telah lama memiliki satu istilah yang tepat — dan bersamanya suatu etos ekologis yang menuntun budaya kinsentris mereka.
Seluruh aspek pada budaya dan kehidupan masyarakat Igorot dilandasi oleh kebajikan dari ayyew.⁶⁷ Pria, wanita, rumah tangga, dan komunitas dihargai sejauh mana mereka mewujudkan prinsip ini. Ayyew tidak sekadar berarti selaras dengan suatu siklus, tetapi juga merawat putarannya.
Anak kecil pertama kali mempelajari konsep ayyew saat waktu makan. Adalah ayyew untuk menghabiskan setiap butir nasi di piring. Bukan karena membuangnya berarti sia-sia, melainkan karena butir terakhir itu adalah puncak suatu siklus. Butir terakhir melambangkan akhir satu siklus sekaligus awal siklus berikutnya — dan kesempatan untuk menambah sedikit lagi. Ketika satu siklus berakhir dan yang lain dimulai, di sanalah terdapat peluang untuk menjadi lebih kuat agar dapat berkontribusi: menanam bibit berikutnya, membantu panen berikutnya, menambahkan batu pada dinding kebun.
Ketika ada sisa dari suatu proses — seperti nasi gosong, kulit pisang, atau potongan rumput — ayyew menuntun peralihannya ke siklus berikutnya. Alih-alih langsung mengomposkan bahan organis tersebut, cara yang lebih dihargai — lebih ayyew — adalah memberikannya kepada babi-babi di sekitar kampung. Kedua cara memang menghasilkan pupuk, tetapi kotoran yang dihasilkan babi jauh lebih terkonsentrasi akan karbon dan mikroorganisme, sehingga lebih efektif disebarkan ke ladang dan kebun untuk menyebarkan nutrisinya ke seluruh ekosistem.
Ayyew juga menuntun relasi warga Igorot dengan lahan. Perusakan hutan sangatlah dibenci (“bagaimana mungkin seseorang dapat meraih sistem siklik yang lebih kaya dari itu?”⁶⁸). Sebaliknya, kerja panjang mengubah lereng berumput menjadi ekosistem yang subur dan beragam secara hayati sangatlah dihargai. Alih-alih membiarkan hujan mengalir deras menuruni lereng, air ditangkap dalam pola berliku seperti fraktal. Dengan cara ini, aliran siklus hidrologis — hujan, sungai, penguapan, dan hujan kembali — tersebar ke seluruh ekosistem lereng secara lebih merata. Setiap teras sawah pun menjadi semakin kaya — bukan hanya kaya hasil panen, tetapi, terutama, kaya dalam arti Kebumian: stabilitas, resiliensi, keragaman, daya hidup, dan keberlimpahan — ciri yang sama yang telah berkembang di planet kita yang dahulu tandus.
Dalam resonansi antara etos ayyew dan karakter kosmologis Bumi, terletak Silabumi yang pertama.
Ketika kita ingin memastikan bahwa upaya-upaya manusia bersifat hijau, Bumi menunjukkan jalan ke depan. Sebagaimana Bumi menuntun prosesnya menuju siklus yang kian memperkaya, demikian pula kita harus menuntun proses kita. Hanya ketika proses manusia menghasilkan siklus yang spiral, barulah proses tersebut dapat dianggap sebagai kontribusi ekologis — dan hijau.
Hari ini, kita menyadari bahwa banyak proses modern kita justru menghasilkan kebalikannya: pengurasan. Barangkali, hal ini terlihat paling jelas pada plastik.
Dalam komunitas Igorot, molekul karbon dalam sebutir padi dapat terus berputar dari kebun ke manusia ke babi lalu kembali ke kebun, tanpa henti. Molekul plastik memang juga berbasis karbon, tetapi tidak cocok dengan siklus seperti itu. Plastik sekali pakai dirancang tanpa rencana untuk siklus berikutnya, sehingga menimbulkan berbagai masalah. Produk dan proses seperti ini cenderung berakhir secara linear — ditimbun atau dibakar. Karena tanpa perencanaan tersebut, plastik gagal mengikuti proses siklikal Bumi.
Untuk melihat ‘warna’ proses modern kita, pertama kita harus bertanya tentang tujuan atau tahap akhir pada proses tersebut: apakah terdapat niat untuk siklus berikutnya setelah siklus pertama selesai? Hanya ketika suatu proses memiliki rencana bagi penggunaan berikutnya — dan siklus setelahnya lagi — barulah ia dapat dianggap sebagai kontribusi ekologis.
Maka, bagaimana dengan proses-proses sirkular kita? Apakah sudah cukup untuk disebut hijau?
Hingga hari ini, banyak produk dirancang menjadi sirkular — nasib produk itu selanjutnya telah direncanakan. Botol PET, karpet, dan berbagai produk lainnya dibuat agar setelah digunakan dapat diproses menjadi sesuatu yang baru. Bahan-bahannya dianggap sebagai “nutrien teknis”⁶⁹ yang dapat digunakan kembali tanpa batas. Dengan cara ini, proses-proses modern berupaya bergerak menuju “ekonomi sirkular”.
Selama proses-proses ini memiliki rencana bagi penggunaan atau siklus berikutnya dari suatu produk, sirkularitas memang merupakan langkah penting menuju pola siklikal Bumi.
Tetapi, sirkularitas saja tidak cukup.
Selama jutaan tahun, planet-planet tetangga Bumi berputar dalam lingkaran sempurna mengelilingi Matahari — namun mereka tidak menjadi hijau. Energi Matahari terus datang, tetapi siklus di Venus tidak berkembang menjadi jaringan kehidupan. Putaran Merkurius tidak menghasilkan konfigurasi materi yang semakin kompleks. Lingkaran planet mereka mungkin sempurna, tetapi pengayaan sistemik tidak pernah terjadi.
Seperti yang kita lihat dalam proses Bumi dan warga Igorot, pengayaan ekologis memperlukan pergeseran yang dirawat — selalu ada sesuatu yang lebih. Satu batu lagi pada dinding teras sawah. Satu atom karbon lagi pada molekul protein. Tambahan itu mungkin sangat kecil, tetapi selama rangkaian siklus yang panjang, hasilnya dapat mengubah dunia. Memang, itulah perbedaan antara pengurasan dan pengayaan, antara kelabu dan hijau.
Demikian, sebuah botol plastik bisa saja dapat digunakan kembali tanpa batas, sebuah ekonomi bisa sirkular, sebuah perusahaan bisa berkelanjutan — namun, seperti permukaan Venus dan Mars, berakhir pada ketandusan.
Sebab dalam mekarnya sistem siklik biosfer, tidak ada lingkaran yang benar-benar sempurna. Yang ada hanyalah siklus yang spiral ke luar atau ke dalam, berkontribusi atau mendegradasi, memperkaya atau menguras.
Sebagaimana kita ingin memastikan bahwa upaya kita hijau, tidak hanya kita harus merencanakan siklus berikutnya bagi proses materi dan energi kita, harus kita pastikan pula bahwa setiap putaran senantiasa memperkaya.
Dengan memahami geometri spiral ini, kita dapat menyelami lebih jauh sifat vorteks dari pengayaan itu sendiri. Khususnya, putaran energi yang menyebar ke luar dan putaran materi yang terkonsentrasi ke dalam — Silabumi kita yang kedua.