Sebuah Kisah Kosmis
Tractatus Ayyew
Russell Maier & Banayan Angway
969 kata
Tractatus Ayyew
Russell Maier & Banayan Angway
969 kata
LEBIH DARI 5 MILIAR TAHUN YANG LALU, DALAM LAUTAN AWAN debu bintang, tata surya kita mulai terbentuk dan berputar. Ketika materi kosmis saling bertumbukan dan semakin padat, matahari kita pun menyala. Dalam sisa puing-puing yang masih berputar, massa dan momentum lain mulai bergabung — jatuh ke orbit sebagai gumpalan padat di sekitar bintang muda kita. Ketika masing-masing gumpalan memperoleh koherensi dan kestabilan, planet-planet tata surya pun lahir. Sedikit demi sedikit, setiap planet mencapai kombinasi unik antara energi dan materi: jarak dari matahari dan rotasi, kelimpahan unsur dan komposisi kimia, kemiringan sumbu dan suhu permukaan — suatu konfigurasi planet yang, sebagaimana ia terbentuk, demikian pula ia mulai menunjukkan dirinya.¹²
Seperti saudara-saudaranya di tata surya, Bumi pada awalnya adalah tempat yang tandus dan sunyi. Selama dua miliar tahun pertamanya, atmosfer Bumi penuh dengan karbon dioksida, menjadikannya panas, keras, dan tak stabil.¹³ Selama berjuta-juta tahun, permukaannya hanya ditandai oleh naik-turunnya lempeng tektonik, arus samudra, dan aliran atmosfer. Namun, ketika siklus purba ini terus berputar di bawah sinar matahari yang tak kenal henti, Bumi yang kini kita kenal mulai terlihat.
Ketika matahari terus bersinar, entropi menuntut pelepasan energi.¹⁴ Seperti hujan yang mengalir menuruni gunung, berbelok-belok menjadi sungai dan anak sungai, pancaran sinar matahari yang tiada henti pun mengalir di permukaan Bumi. Sebagaimana bentuk dan kontur gunung menciptakan aliran dan lembah yang khas, demikian pula karakter kosmologis Bumi membentuk aliran energinya sendiri.
Didorong oleh konfigurasi planetnya yang unik, karakter kosmologis Bumi mulai menyingkapkan diri. Sedikit demi sedikit, proses, siklus, dan sistem mulai terjadi dengan karakter khas Kebumian. Seiring hukum termodinamika, siklus-siklus Bumi berputar menuju pembauran energi yang semakin efektif. Perlahan, kombinasi kimia baru muncul untuk menyalurkan dan menyebarkan cahaya matahari dengan lebih baik. Perlahan, siklus-siklus kecil berpadu menjadi sistem yang lebih besar dan mulai menggerakkan diri mereka sendiri.¹⁵ Perlahan, sistem-sistem ini berkembang menjadi sel, organisme, dan akhirnya ekosistem.¹⁶
Ketika pola-pola pembauran energi yang semakin efektif muncul, tumbuhan dengan cepat menyebar di permukaan planet. Dengan menangkap karbon dari udara, mereka menggunakannya untuk membangun tubuh mereka dan menyimpan energi. Tumbuhan mulai membentuk daun, bunga, dan batang raksasa, sementara organisme lain belajar cara menguraikan mereka.
Dalam proses itu, mereka berinteraksi dan beradaptasi — dan seiring adaptasi, mereka menjadi semakin beragam namun juga saling terjalin. Sebuah jaringan kehidupan yang penuh daya dan saling-mendukung mulai terajut di seluruh permukaan Bumi.
Segera, hutan, padang, dan jamur menyelimuti planet. Hewan, alga, dan dinosaurus — semuanya terbuat dari pola karbon yang kompleks — hidup dan berkembang. Saat mereka hidup dan mati, materi karbon mereka berputar dari satu organisme ke organisme lain, sementara energi nutrien mereka berputar keluar melalui jaringan ekosistem yang akhirnya membentuk biosfer Bumi.¹⁷
Generasi demi generasi yang gugur tertimbun oleh kehidupan berikutnya. Baik di bentangan hutan maupun lautan, perlahan tapi pasti lapisan-lapisan kehidupan terkubur di bawah endapan. Selama ratusan juta tahun, Bumi memadatkan dan mengompres biomassa makhluk-makhluk purba ini — terus mengonsentrasikan dan mengamankan karbon mereka semakin dalam di bawah tanah.
Meskipun organisme-organisme Bumi mengeluarkan karbon dioksida, putaran siklusnya bersifat subtraktif — menyimpan lebih banyak karbon di dalam tanah daripada yang dikembalikan ke udara. Semakin banyak makhluk hidup dan lalu mati, semakin banyak pula karbon yang tersingkir dari atmosfer. Dengan semakin banyak karbon tersimpan, iklim Bumi menjadi stabil¹⁸ dan biosfer menjadi subur.
Dalam keberlimpahan ini, sekitar 30 juta tahun terakhir, berbagai kera bipedal muncul dari hutan — dan kita, Homo sapiens, juga naik ke pangung.
Sepanjang perjuangan untuk bertahan hidup, kita menemukan api.
Awalnya, kita mulai membakar kayu untuk menghangatkan gua, lalu rumah, lalu untuk menyalakan tungku. Tak lama kemudian, kita menemukan simpanan karbon purba Bumi.
Dan kita sadari betapa ia jauh lebih kaya akan energi.
Sebagian dari kita (namun tentu tidak semua) mulai menggali karbon purba itu — yang kemudian kita sebut batu bara, gas alam, dan minyak bumi. Ketika sebagian masyarakat menjadi semakin mahir mengekstrak dan membakarnya (sementara yang lain tetap hidup dengan baik tanpa itu), karbon itu mulai menggerakkan roda, mesin, dan pabrik kita. Ketika karbon menjadi penggerak ekonomi, kita memberinya nama baru: bahan bakar fosil.
Namun, meski namanya terdengar canggih, simpanan karbon purba ini bukanlah bahan bakar sedari awal. Untuk menjadikannya demikian, diperlukan proses penyulingan intensif, yang selalu menghasilkan sisa-sisa kimia tak terpakai.¹⁹ Tak ada tempat untuk membuang atau menyimpannya, sisa ini mulai menumpuk.²⁰
Hingga akhirnya kita menyadari sisa penyulingan itu pun bisa dimanfaatkan! Dengan sedikit proses kimiawi, kita menciptakan polimer, dan dengan sedikit lagi, kita memperoleh ragam bahan baru yang menakjubkan.
Plastik pun datang.
Segera, kita menyelesaikan berbagai masalah dengan membuat segala macam benda menakjubkan. Kita tak perlu lagi membunuh gajah untuk bola biliar gading.²¹ Tak lagi butuh piring perak mahal untuk memotret.²² Tak lagi umur simpan makanan segar hanya beberapa hari.²³ Plastik memungkinkan produk, teknologi, dan efisiensi baru — memberi cara bagi industri untuk mengurangi biaya, menambah keuntungan, dan mengakumulasi modal.
Didorong oleh aliran minyak bumi dan laba yang terus meningkat, industri tumbuh dan membesar. Seiring ekspansi, begitu pula ekstraksi karbon, penyulingan, dan ekonomi yang bergantung padanya. Saat semuanya berputar semakin cepat, selalu ada sedikit sisa yang tak bisa diolah — membuat industri menghasilkan lebih banyak plastik dengan biaya semakin murah.
Kita mengonsumsi satu produk plastik demi yang lain, berusaha sebaik mungkin untuk menggunakannya kembali dan mendaur ulang. Namun karena plastik baru begitu murah, tak ada keuntungan dalam mengolah yang lama — lebih mudah dibakar, dibuang, atau dikirim ke tempat lain.
Tak lama kemudian, plastik menumpuk di mana-mana. Dengan kecemasan, kita menyaksikan plastik menyumbat sungai, mengotori pantai, dan tertimbun menjadi gunung-gunung asap.²⁴ Akhirnya, partikel plastik ada di mana-mana — di tubuh ikan, hewan, bahkan kita sendiri.²⁵
Terkejut, malu, namun juga penuh tekad, industri berupaya memperbaiki kesalahan dan menjadi ‘lebih hijau’. Mereka meyakinkan diri dan dunia bahwa ada solusi yang mudah digapai. Perusahaan berjuang membuat proses, produk, dan kemasannya lebih tidak merusak, lebih tidak mencemari.
Kendati begitu, setelah melewati tak terhitung jumlahnya cabang solusi, meski “lebih tidak berbahaya” dan “lebih tidak mencemari”, tetaplah ia berbahaya dan mencemari.
Tanpa henti, arus kelabu dari plastik dan polusi terus bertambah.
Dan bersamanya, juga keputusasaan kita.