Pola-Pola Proses
Tractatus Ayyew
Buku Pertama | Bab Empat | Russell Maier & Banayan Angway
809 kata
Tractatus Ayyew
Buku Pertama | Bab Empat | Russell Maier & Banayan Angway
809 kata
SELAMA EMPAT MILIAR TAHUN TERAKHIR, PERPADUAN TUNGGAL dari orbit, rotasi, komposisi, dan unsur kimiawi planet kita telah memainkan perannya. Seiring dengan terbentangnya konfigurasi unik antara materi dan energi ini, sebuah batu yang sebelumnya tandus telah menjelma menjadi biosfer yang subur — rumah bersama yang kini kita huni. Dari semua yang kita ketahui tentang planet-planet lain di tata surya dan galaksi kita, kisah ini sungguh luar biasa. Namun, yang lebih menakjubkan lagi: kini, penyampaian kami tentang kisah ini telah menjadi bagian dari kisah itu sendiri.
Penyampaian kisah Bumi hanya mungkin terjadi melalui pertemuan yang luas dan unik antara materi dan energi: spiral karbon yang terpilin menuju konfigurasi yang semakin pekat dan kompleks; pancaran energi matahari yang lantas terurai ke dalam organisme dan ekosistem yang kian beragam; dan melalui semuanya itu, munculnya kesadaran, secara tak terelakkan dan dalam beribu bentuknya. Digerakkan oleh karbon purba yang telah terpadatkan, abad-abad terakhir peradaban dan perkembangan ilmu kita telah membuka kemungkinan untuk menyingkap kisah Bumi — juga kisah kita sendiri.
Dari sudut pandang yang demikian luas ini, kita mesti meninjau kembali penilaian kita — tentang diri kita sendiri, dan tentang plastik.
Alih-alih terbenam dalam keputusasaan atas zaman modern kita yang sarat pengurasan ekologis, kita dapat menatap dengan kagum pada tindakan Bumi dalam pengayaan ekologisnya.
Sebab cara planet kita — sebagai suatu sistem kosmologis yang terkonfigurasi dengan unik— dalam mengelola materi dan energinya telah membawa pada penghijauan tiada henti pada permukannya: menumbuhkan keragaman, keberdayaan, dan kelimpahan yang kian besar.²⁶ Dan akhirnya, melalui lahirnya kesadaran dari proses ini, kita didorong untuk merenungkan proses itu sendiri.
Jadi, ke mana langkah kita selanjutnya?
Pertama, marilah kita genggam sudut pandang ini — dan keluasan pandangan yang diberikannya.
Dari sini kita dapat menyaksikan fenomena lainnya pada planet yang juga genting. Selain hantaman meteor dan letusan gunung berapi, belum pernah ada fenomena semacam ini selama jutaan tahun. Karena ulah manusia modern, telah berabad-abad lamanya sejak proses, siklus, dan sistem Bumi secara tiba-tiba menambahkan karbon ke atmosfer lebih banyak daripada yang dapat ia serap kembali..²⁷
Terkurasnya daya hidup dan keragaman biosfer yang menyusul merupakan tantangan langsung terhadap satu abad permainan karbon kita.
Laksana anak kecil yang pertama kali membangun sebuah menara dari balok, kita memiliki banyak hal untuk dipelajari dari momen ini. Acap kali, seorang anak larut dalam sukacita membangun sesuatu yang megah. Tetapi ketika menara balok itu runtuh, ketika hasilnya tak seperti yang diharapkan, anak itu kecewa, menyalahkan dirinya sendiri — dan balok-baloknya.
Tentu saja, tiada yang patut disalahkan.
Hanya melalui kejatuhan pertama, seseorang mulai memahami proses permainan itu sendiri.
Tiada jalan lain.
Begitu pula halnya dengan kita: disrupsi kita terhadap siklus-siklus ekologis bukanlah akibat dari “kodrat” kita, sama halnya seperti bukan “kodrat” karbon ataupun oksigen.²⁸
Melainkan, ‘sekadar’ akibat dari cara kita bermain: pola mendasar dari mana proses-proses kita telah mengelola energi dan materi.
Sebagaimana dapat disaksikan dalam kisah plastik, proses-proses modern kita cenderung membentuk corak siklus materi yang menyebarkan karbon, memusatkan energi, menurunkan keragaman, dan menumpulkan kesadaran. Bertolak belakang dengan itu, proses-proses Bumi justru bercorak sebaliknya: memusatkan karbon, menyebarkan energi, meningkatkan keragaman, dan menumbuhkan kesadaran. Saat pola di balik proses modern kita merusak ekosistem, pola proses Bumi secara sistematis senantiasa memperkayanya — menjadikannya semakin beragam, berdaya hidup, dan berlimpah.²⁹
Seperti seorang anak yang kecewa namun tekun dan penuh tekad untuk mencoba kembali, kini kita berjuang lebih keras dari sebelumnya. Bersama rasa malu atas kegagalan, tatapan dan kepala kita tertundukkan, segan melihat ke depan namun sembari berjuang gigih untuk membangun lebih kuat dan lebih tinggi: agar proses-proses kita menjadi lebih tidak merusak, lebih tidak mencemari, lebih tidak mendegradasi — lebih tidak kelabu. Namun, sekeras apapun upaya kita, polusi tetap meningkat tanpa henti: dari waktu ke waktu, setiap kemajuan efisiensi dalam proses-proses kelabu kita secara tak terelakkan tersusul oleh penyebarannya yang juga semakin masif. Dengan pola dasar yang tetap kelabu, sekalipun proses-prosesnya “lebih tidak menguras”, tetaplah menguras..³⁰
Banayan dan saya tiba pada pemahaman bahwa sudah saatnya untuk kita mengangkat kepala dari keletihan.
Juga dari penghakiman diri.
Sekali lagi, alih-alih berputus asa, kita bisa terpacu.
Fenomena sekali dalam jutaan tahun kita tentang penggunaan karbon secara aditif sesungguhnya justru adalah peluang yang luar biasa.
Untuk pertama kalinya, dengan memperlakukan berbagai aktivitas penggunaan karbon kita sebagai titik perbandingan, perbedaan antara cara modern kita dengan cara Bumi dapat dilihat dalam kejelasan yang belum pernah ada sebelumnya. Dalam kontras tajam antar-pola tersebut, kita mulai dapat mengenali karakter kosmologis keplanetan yang telah mendorong transformasi dari batu tandus menjadi biosfer yang subur: pola di mana Bumi telah mengelola materi dan energinya melalui proses, siklus, dan sistem, menuju pengayaan bagi semua.
Dan, menapaki jalan yang serupa, melalui disonansi ekologis dalam modernitas jugalah ‘tatapan modern’ kita dapat menyadari, mengenali, dan mengakui berbagai masyarakat itu — dari yang kuno dan telah lenyap hingga yang masih bertahan — yang telah sejak lama mencapai keselarasan dengan pola dan karakter Bumi.³¹
Bangsa-bangsa yang, hanya dengan cara mereka hidup, turut meningkatkan daya hidup, keragaman, dan kelimpahan ekosistem yang menaungi mereka.
Bangsa-bangsa yang — seperti halnya Bumi — telah menumbuhkan rumah bersama bagi semua.