Relasi Serumpun
Tractatus Ayyew
Buku Pertama | Bab Lima | Russell Maier & Banayan Angway
1,544 kata
Tractatus Ayyew
Buku Pertama | Bab Lima | Russell Maier & Banayan Angway
1,544 kata
SEPANJANG BENTANG SEJARAH MANUSIA, BEBERAPA BANGSA telah mencapai keunggulan melebihi yang lain dalam keterampilan integrasi ekologis. Bertolak belakang dari karakteristik pengurasan ekologis pada masa modern kita, budaya bangsa-bangsa ini secara bertahap memperkaya siklus ekologis di mana mereka sendiri juga bagiannya — menjadikannya lebih beragam, asri, dan hidup dengan setiap siklusnya. Hari ini, sebagaimana kita berupaya menemukan jalan hijau ke depan, adalah penting untuk juga menyadari bahwa budaya-budaya kontributif yang dibicarakan di atas telah selesai menapaki, sekaligus menunjukkan, jalan itu. Hanya melalui kesadaran atas hal ini, mampulah kita mulai belajar dari mereka. Khususnya, tentang bagaimana cara mereka sendiri belajar — cara belajar yang lahirnya hanya dimungkinkan berkat cara pandang mereka terhadap tumbuhan dan hewan sebagai kin: kerabat, saudara, hingga tetua dan guru.
Meskipun tak terhitung jumlahnya bangsa-bangsa dengan kontribusi hijau yang telah berkembang di berbagai sisi planet ini (dan banyak yang masih ada hingga kini), teladan yang ditunjukkan oleh mereka yang telah pertama menempati benua Amerika adalah salah satu yang mencerahkan.
Lima abad silam, sebelum kedatangan bakteri, hewan, dan manusia dari Eropa, daratan Amerika merupakan tempat bernaung bagi ratusan bangsa yang berdaulat, makmur, bahkan berkelimpahan.³² Perkiraan kontemporer untuk populasi pada masa itu berkisar mulai dari sepuluh hingga seratus juta penduduk atau lebih,³³ dengan beberapa kota diperkirakan berpopulasi lebih dari seratus ribu.³⁴
Banyak dari bangsa-bangsa ini telah (dan masih) berusia ratusan, bahkan ribuan tahun — berketurunan sejak dari zaman es. Selama ribuan tahun, ada yang menguasai penggunaan api untuk membersihkan hamparan semak di wilayah luas. Ada pula yang mengembangkan sistem akuakultur dan pertanian yang mencakup seluruh hutan, danau, hingga punggung pegunungan.
Sebagaimana banyaknya manusia di sana, wajar bila mereka memberi jejak ekologis yang sepadan dengan kehadiran dan kemampuan mereka. Dengan populasi besar dan teknologi pada masanya, bangsa-bangsa ini lebih dari mampu untuk berburu, menangkap ikan, dan memetik, secara berlebihan;³⁵ bahkan melampaui daya dukung ekosistem yang menopang mereka.
Namun, eksploitasi dan “konsumsi berlebihan” tidak pernah terjadi. Begitu juga dengan pengurasan pada ekosistem benua itu.
Faktanya, yang terjadi justru kebalikannya.
Pada tahun 1492, para penjelajah pertama dari Eropa mendatangi daratan ini dan mencatat kesan mereka tentang tanah dan penghuninya. Mereka terperangah bukan hanya oleh karagaman masyarakat dan budaya yang mereka jumpai, tetapi juga oleh keragaman flora dan fauna.
Dan, oleh kelimpahannya.
Dari Amerika Selatan hingga Utara, para penjelajah itu mencatat sembari takjub dengan daya hidup ekologis yang mereka saksikan: sungai-sungai melimpah ruah dengan ikan; padang-padang rumput dipenuhi kawanan hewan penggembala; hutan-hutan dipenuhi berbagai hewan, burung, dan pepohonan yang menjulang tinggi; pesisir pun berlimpah kehidupan laut.
Sayangnya, para penjelajah — juga sebagai pendatang baru — ini tidak memiliki sudut pandang untuk memahami apa yang sesungguhnya mereka saksikan. Datang dari budaya yang mengandalkan tanaman tunggal dan hewan domestik atau peliharaan, mereka tak mampu membayangkan bahwa kelimpahan dan keragaman hayati yang mereka lihat adalah mungkin untuk difasilitasi oleh manusia. Konsekuensinya, mereka keliru menisbahkan seluruh daya hidup ekosistem ini kepada karya ‘alam’ semata:
“...negeri di hadapan kami menampilkan segala hal yang dapat diharapkan dari kedermawanan alam. Karena tiada alasan bagi kami untuk menyangka bahwa negeri ini dengan berbagai kelimpahannya pernah berhutang pada sentuhan tangan manusia, kiranya saya tak mungkin percaya akan adanya negeri-negeri lain yang telah ditemukan oleh penjelajah dengan pemandangan sekaya ini.”
— observasi Kapten Vancouver terhadap Pantai Barat Laut Pasifik, 1792. ³⁶
Kini kita tahu bahwa kesimpulan yang kolonial di atas sungguh keliru selama ini. Penelitian modern telah mengonfirmasi apa yang telah lama diketahui oleh keturunan bangsa-bangsa tersebut. Tumbuh berkembangnya ekosistem pada saat itu bukanlah berkat sedikitnya keterlibatan manusia di dalamnya, melainkan, justru, dampak dari keterlibatan mereka..
Kini para peneliti mulai melihat melampaui tembok kesalahpahaman ilmiah yang dibangun di atas asumsi keliru bahwa (kemungkinan hadirnya) ekosistem yang kaya harus terpisah dari integrasi manusia. Ketika wilayah di mana bangsa-bangsa awal ini hidup ditelusuri lebih dekat, suatu pola yang mendasar mulai terungkap. Sebagai tempat di mana mereka bernaung, hutan hari ini terlihat lebih tinggi akan keragaman hayati dibandingkan dengan ekosistem tetangganya yang nihil keterlibatan manusia.³⁷ Di mana mereka memancing, sungainya hari ini lebih melimpah dari sungai lainnya.³⁸ Di mana mereka mendapatkan kerang dan remis, saat ini beting-beting tersebut menampung lebih banyak spesies daripada ekosistem-ekosistem tak-terkultivasi di dekatnya.³⁹ Lebih mengejutkan lagi, kawasan hutan hujan Amazon, yang telah lama dianggap sebagai lambang ‘keliaran (wilderness)’ dan 'alam (nature)', kini dipandang pernah menjadi lokasi pertanian, kebun, dan kota pra-Columbus. Dengan mereka hidup, berbudidaya dan bercocok tanam di sana, menjadi landasan di balik betapa asri, hidup, dan beragamnya ekosistem-ekosistem Amazon pada hari ini.⁴⁰
Kendati bangsa-bangsa ini memiliki orientasi ekologis yang serupa, struktur sosial mereka amatlah beragam. Sebagian patriarkal, lainnya matriarkal; sebagian berbentuk kerajaan, lainnya ada yang konfederasi; sebagian mencintai kedamaian, lainnya mencari perang.⁴¹ Namun, di balik seluruh keberagaman sosial-politik itu, tumbuh suatu pandangan mendasar yang relatif serupa — terutama bila dibandingkan dengan pandangan dari bangsa Eropa yang datang.⁴²
Tentu, seperti halnya berbagai bangsa Eropa yang kurang lebih saling mewarisi pengetahuan dari Roma kuno dan Yunani, sebagai garis pangkal geografis dan kultural mereka, demikian pula bangsa-bangsa awal di Amerika mewarisi dari leluhur zaman es mereka.
Sebagaimana ide-ide Yunani dan Roma memberi bangsa Inggris dan Spanyol pandangan umum tentang “Manusia” dan “Alam”, demikian pula bangsa-bangsa awal di Amerika memiliki pandangan umum khas mereka. Namun, alih-alih dikotomi ‘tangan manusia’ dengan ‘alam nan dermawan’ seperti dalam pandangan para kolonial, di seluruh benua Amerika bangsa-bangsa awal ini berbagi suatu ontologi mendasar yang selaras: bahwa manusia, hewan, dan tumbuhan adalah bagian dari dunia yang sama. Bagi bangsa-bangsa ini, setiap apapun yang ada juga selalu merupakan bagian-bagian integral dari tempat bernaungnya — sebuah komunitas hubungan kekerabatan dengan keserumpunan silsilah leluhur dan asal-usul, ekosistem dan siklus.⁴³
Dari pandangan inilah, hewan dan tumbuhan dihargai sebagai kin atau kerabat: saudara (perempuan atau laki-laki), kakek atau nenek.
Pandangan kekerabatan atau, lebih tepatnya, kinsentris ini telah membentuk cara budaya-budaya tersebut belajar dan berkembang.⁴⁴ Seperti halnya mereka akan belajar dari para tetua manusia, budaya-budaya ini menaruh perhatian khusus pada beberapa organisme di sekeliling mereka: makhluk-makhluk yang dengan keindahan dan kelihaiannya telah mencapai keterampilan integrasi ekologis mereka.
Kini, dari kacamata ilmiah, kita bisa mengapresiasi kedalaman pandangan dunia ini.
Sebagaimana saudara atau paman adalah bagian dari keluarga karena berbagi garis keturunan, demikian pula tumbuhan, serangga, hewan, dan manusia adalah bagian dari satu keluarga ekologis, terhubung melalui garis keturunan yang jauh ke masa lampau. Sebagaimana anak, orang tua, dan kakek-nenek adalah bagian dari keluarga, demikian pula manusia, tumbuhan, dan hewan adalah bagian dari ekosistem tempat mereka berada. Sebagaimana anggota keluarga muda dan tua berbeda dalam kebijaksanaannya, demikian pula anggota ekosistem berbeda dalam kedalaman integrasi ekologisnya.
Dari sudut pandang ini, tumbuhan dan hewan — yang telah miliaran tahun menyelaraskan diri dengan ekosistem tempatnya hidup — menunjukkan pelajaran berharga untuk manusia saat ini.
Sesungguhnya, seekor salmon atau elang, tiram atau pohon pinus, semua adalah kulminasi dari jutaan tahun jatuh-bangun evolusi — hasil dari berbagai interaksi, adaptasi, dan optimisasi yang tak terhitung jumlahnya demi berintegrasi dengan suatu ekosistem. Dibandingkan dengan itu, bangsa-bangsa awal yang mendiami Amerika adalah para pendatang baru — remaja-remaja ekologis yang memiliki banyak hal untuk dipelajari dari para tetua ini.
Dan demikian, ya, mereka telah belajar.
Saat bangsa-bangsa awal ini mengamati bagaimana kehidupan tumbuhan dan hewan selaras dengan siklus ekosistem, mereka mencatat berbagai tendensinya, mengenali karakternya, dan menyimpulkan suatu hikmah. Dari kerja sama burung gagak hingga ketekunan rusa; dari kekuatan beruang hingga daya tahan elk; kisah-kisah tentang makhluk tertentu dan kebajikan yang mereka tunjukkan akhirnya diwariskan turun-temurun.
Sering kali, suku yang merasakan kedekatan karakter dengan makluk tertentu akan menjadikannya pemimpin dan penuntun. Hampir seluruh bangsa awal di Amerika Utara memiliki klan yang menempatkan hewan tertentu sebagai totem — suatu deklarasi formal akan kekeluargaan mereka dengan hewan tersebut.⁴⁵ Melalui cerita dan mitos, mereka terinsipirasi oleh teladan ekologis sang hewan untuk menentukan nilai-nilai dan etika klan mereka.
Berlandaskan nilai dan kebajikan ini, bangsa-bangsa tersebut melibatkan keterampilan ekologis itu ke dalam bahasa, tata bahasa, dan nilai-nilai hidup mereka.⁴⁶ Dengan melakukan hal itu, mereka mampu meningkatkan kesadaran ekologis, integrasi ekologis, dan kesejahteraan kolektif mereka. Menapaki jalan ini, budaya mereka pun akhirnya selaras dengan siklus makhluk yang mereka hormati — migrasi angsa, kembalinya salmon, kedatangan dan kepergian paus dan elk — dan persis karena siklus ini tetap hidup, maka memungkinkan juga bagi mereka untuk terus-menerus belajar.
Dalam sebuah putaran spiral kesadaran yang tak hentinya berkembang, budaya-budaya siklus-sentris ini meningkatkan harmoni ekosistem tempat mereka bernaung. Dengan momentum dari akumulasi wawasan selama ribuan tahun, cara mereka untuk mendapatkan pengetahuan pada akhirnya secara perlahan namun pasti mengantarkan mereka pada pemahaman ekologis yang begitu jernih. Sedikit demi sedikit, bangsa-bangsa siklosentris⁴⁷ ini mampu selaras dengan tumbuhan dan hewan dalam ko-kreasi rumah bersama di mana mereka semua berkembang.
Kini, ketika kita menyadari dan mengakui prestasi hijau bangsa-bangsa awal ini, kita pun dapat belajar dari mereka — dan lantas turut menapaki jejaknya.
Untuk melakukannya, kesadaran ontologis terhadap relasi keserumpunan dan kekerabatan (kinship) kita dengan seluruh makhluk Bumi adalah kuncinya.
Barulah setelahnya kita bisa melihat tidak hadirnya asas ini dalam pandangan modern kita pada dunia.
Dan barulah setelahnya kita bisa memahami bahwa ketidakhadiran ini merupakan hasil dari kekeliruan metafisik yang lebih dalam: kekeliruan masa lampau yang telah terlalu lama menyetir takdir seluruh aktivitas modern kita yang telah memberi pengurasan dan degradasi.