Kekeliruan Alam
Tractatus Ayyew
Buku Pertama | Bab Enam | Russell Maier & Banayan Angway
961 kata
Tractatus Ayyew
Buku Pertama | Bab Enam | Russell Maier & Banayan Angway
961 kata
BERBEDA TAJAM DENGAN BUDAYA-BUDAYA KINSENTRIS, BAIK DARI yang telah punah maupun yang masih berlangsung, cara pandang modern kita terhadap dunia didasarkan sepenuhnya pada ajaran sesama manusia. Dari filsuf hingga nabi, pendeta hingga raja, ilmuwan hingga peramal, guru-guru manusia tersebut telah sepenuhnya membentuk pemahaman dan relasi kita dengan ‘dunia alamiah’. Atas dasar cara mengetahui ini, kita sebagai manusia modern hari ini kemudian membangun dan menetapkan parameter untuk membedakan yang baik dari yang buruk, yang benar dari yang salah — dan, pada akhirnya, memusatkan ideologi kita pada pemenuhan kebutuhan manusia di atas kebutuhan semua penghuni Bumi lainnya. Seberapapun praktikal dan berhasilnya paradigma ini bagi kemakmuran umat manusia, ia telah sepenuhnya gagal dalam mencapai keharmonisan ekologis yang hari ini begitu kita rindukan.
Sebagaimana kita lihat dalam bab sebelumnya, masyarakat siklosentris berpijak pada cara mengetahui yang sama sekali berbeda. Alih-alih hanya belajar dari manusia, masyarakat dengan budaya kinsentris ini mengakui tanaman dan hewan di sekitar mereka sebagai kerabat, tetua, dan guru. Hari ini, dengan kita mulai menyadari relasi antara ontologi kinsentris mereka dan pola pengayaan ekologis yang mereka wujudkan, kita dapat mulai menyaksikan pola pengurasan dalam budaya kita sendiri — dan mengisolasi kekeliruan ontologis yang mengganggu dan menyimpangkan cara modern kita dalam memandang dunia.
Sejak kisah Yunani tentang dewa-manusia yang menguasai dunia, hingga legenda Romawi tentang manusia yang mendominasinya, masyarakat Barat menempatkan manusia pada puncak batu lapik. Sejak para astronom awal menyatakan bahwa matahari berputar mengelilingi ‘Bumi’ (‘the Earth’)⁴⁸, hingga tafsir kitab suci yang menyatakan bahwa manusia berkuasa atas bumi dan segala makhluknya, sentralitas dan keistimewaan manusia telah berakar dalam kesadaran kolektif Barat. Sejauh milenium ini, seiring filsafat modern, agama Barat, etika, dan ilmu telah berkembang dan berevolusi, paradigma ini terbentuk lapisan demi lapisan di atas fondasi kuno demikian.
Namun, sekarang kita sudah jauh lebih tahu.
Setelah berabad-abad perkembangan ilmu dan pengetahuan, para ahli biologi telah lama menepis gagasan bahwa manusia berada di puncak pohon kehidupan. Demikian pula, para astronom telah lama membuktikan bahwa Bumi bukanlah pusat kosmos. Pada titik ini, pengetahuan Barat dan kearifan kinsentris sejalan. Keduanya sepakat bahwa manusia, tumbuhan, dan hewan semuanya saling berbagi nenek moyang dan asal-usul, aksi dan konsekuensi, keterhubungan dan ketergantungan. Keduanya sepakat bahwa tak ada organisme yang bersifat sentral, terpisah, atau lebih unggul dari yang lain: layaknya sebuah rajutan, setiap benang adalah bagian yang tak terpisahkan dari keseluruhan.
Kendati betapapun telah ditolak dengan tegas, aksioma tentang sentralitas dan keterpisahan manusia tetap bertahan, awet terkubur di kedalaman ideologi modern kita. Seperti halnya sebuah bangunan sering kali didirikan di atas fondasi-fondasi lama yang telah terlupakan — dan seperti halnya kemiringan Menara Pisa di Italia karena kondisi fondasi di bawahnya — aksioma kuno tentang keistimewaan manusia kian ‘memiringkan’ bangunan intelektual modern yang dibangun di atasnya.
Dari kapitalisme hingga komunisme, dari nasionalisme hingga konstruktivisme, dari kolonialisme hingga poskolonialisme, tak ada yang lebih jelas menggambarkan hal ini selain cara ideologi modern — dan bahasa yang mengikutinya — membicarakan biosfer. Cara mereka dalam merujuk pada “dunia alamiah”⁴⁹ adalah yang paling memperlihatkan betapa terikatnya mereka pada asumsi yang manusia-sentris.
Dari sudut pandang kinsentris kami, tak ada kata yang lebih sarat beban kekeliruan metafisik kuno daripada “alam”. Istilah ini, sering digunakan secara puitis oleh para environmentalis dan konservasionis untuk melindungi dan memelihara dunia “alamiah”, sayangnya terendam dalam kekeliruan dualistik yang telah lama ada: memisahkan manusia dan alam, budaya dan ekologi, yang alami dan yang manusia.
Tepat di atas pemisahan tajam inilah tak hanya masyarakat modern terbentuk, tetapi juga upaya paling gigih kita dalam berkontribusi secara ekologis pada “lingkungan”, atau “environment” dalam bahasa Inggris. Berasal dari istilah environ dalam Bahasa Inggris Pertengahan, yang berarti melingkari atau mengelilingi, kata “lingkungan” telah berkembang maknanya menjadi segala sesuatu yang ada di sekitar kita sebagai manusia, tetapi bukan bagian dari diri kita sendiri.⁵⁰⁵¹
Selama beberapa dekade terakhir, para feminis⁵², teolog⁵³ dan filsuf⁵⁴ telah mengamati bahwa etika lingkungan modern yang dihasilkan dari fondasi ini (hukum, pedoman keberlanjutan, tujuan PBB, dll.) terkunci dalam perspektif waktu-manusia, ruang-manusia, dan kebutuhan-manusia; dan alhasil juga dalam hak, kepentingan, dan ekonomi manusia. Dari sudut pandang ini, “alam” secara tak terelakkan diobjektifikasi sebagai sesuatu yang selalu berinteraksi dengan umat manusia untuk sekadar dikelola, didominasi, dan dijaga. Sebab itu, upaya kita pada ‘lingkungan’, kemudian, berusaha untuk mengurangi kerusakan, melindungi, dan melestarikan dunia “alamiah” dari sentuhan manusia — yang sejak awal, secara a priori, dipahami sebagai sesuatu yang mencemari, menguras, dan merusak alam.
Sayangnya, dari pola pikir ini, integrasi ekologis manusia merupakan suatu kemustahilan. Pun dengan demikian, gagasan tentang kontribusi ekologis manusia sama sekali tidak pernah dibayangkan, baik oleh para environmentalis maupun industrialis.
Banayan dan saya mengamati bahwa bukan hanya aksioma logika ini keliru, kesimpulan yang dihasilkannya juga bertentangan dengan pengalaman leluhur yang dijalani oleh bangsa di mana Banayan berasal, serta oleh banyak bangsa kinsentris lainnya, baik itu yang kuno maupun yang masih berlangsung: budaya-budaya yang mana konsep “alam” tidak hanya absen, tetapi juga bertentangan secara mendasar.⁵⁵
Kami juga mengamati bahwa upaya melestarikan dan melindungi alam juga mengarah ke nasib yang justru ingin dihindarinya. Melestarikan dan melindungi satu bagian dari sebuah sistem (misalnya organisme atau ekosistem) sembari mengecualikan yang lain, selalu gagal. Ketika bagian-bagian lain terdegradasi, demikian pula keseluruhannya, dan bersamaan dengan itu, secara tak terelakkan, demikian pula bagian-bagiannya.
Untuk bergerak maju menuju kontribusi hijau yang otentik, kita harus sepenuhnya terlebih dahulu menyingkirkan gagasan eksepsionalisme atau keistimewaan manusia dan kesimpulan-kesimpulan menyimpangnya dari pandangan kita tentang dunia.
Untuk melakukannya, konsep “alam” harus runtuh sebagaimana rantai penuh karat dari kekeliruan masa lampau juga demikian.
Barulah setelahnya, kita mampu menghancurkan belenggu gagasan kosmologi yang antroposentris dan kadaluarsa, sembari membuka gerbang menuju regenerasi ekologis yang telah mengundang perhatian serius pada momen kita saat ini.
Barulah setelahnya mampu juga kita melihat tanaman dan hewan di sekitar kita sebagai kerabat, sesepuh, dan panutan dalam hal integrasi ekologis — para guru dari mana kita dapat belajar untuk menghidupkan potensi kontributif kita sendiri.
Dan barulah setelahnya kita mampu melihat bahwa guru terbaik kita telah lama menunggu.