Plastik 1.0
Tractatus Ayyew
Buku Pertama | Bab Dua | Russell Maier & Banayan Angway
579 kata
Tractatus Ayyew
Buku Pertama | Bab Dua | Russell Maier & Banayan Angway
579 kata
TIDAK SEPERTI MATERIAL LAIN, PLASTIK DIBUAT SEPENUHNYA untuk kegunaan dan kemaslahatan manusia. Selama setengah abad terakhir, kita telah mencintainya: secara perlahan tapi pasti mengintegrasikan plastik ke dalam setiap aspek kehidupan modern kita. Namun, karena tidak berguna bagi makhluk lain, plastik kini telah menyumbat siklus-siklus ekologis di darat, sungai, dan laut. Konsekuensi yang mencemarkan dari ciptaan manusia-sentris kita ini sekarang menjadi sumber kebencian dan rasa malu. Meskipun berbagai krisis ekologis lainnya — pengasaman laut, perubahan iklim, kepunahan spesies — bisa jadi jauh lebih darurat, tetap saja, ketika kita memandang pantai-pantai yang tercemar, sungai yang tersumbat, dan paus yang terdampar, polusi plastiklah yang paling membuat kita merasa malu.
Namun, melalui plastik pula, suatu kesadaran telah mulai terbangun.
Di seluruh dunia, kita mulai menyadari ke mana sebenarnya plastik kita — yang telah kita pilah dengan begitu cermat — berakhir.⁴ Jurnalisme investigatif dan penelitian ilmiah telah memperjelas nasib semua plastik kita.⁵ Tak peduli seberapa rapi kita menimbunnya di TPA — partikel-partikel plastik mikroskopis tetap berakhir bebas di biosfer.⁶ Tak peduli seberapa menyeluruh kita membakarnya — zat kimia plastik tetap merembes ke dalam ekosistem, dan ke dalam diri kita. Tak peduli seberapa giat kita mendaur ulangnya — penggunaan, produksi, dan emisi yang terkait dengan plastik⁷ terus meningkat tanpa henti.⁸
Kesadaran akan pencemaran yang terus-menerus ini telah menimbulkan keputusasaan lintas generasi.⁹ It has led to a harsh judgment of both ourselves and of plastic as innately flawed and ecological damaging. Many lament that both plastic and humanity seem destined to pollute, contaminate and deplete.¹⁰
Namun, penilaian-penilaian seperti itu sepenuhnya keliru.¹¹
Meskipun kini kita dapat melihat dengan jelas ke mana plastik kita berakhir, itu baru setengah dari kisahnya. Selama ini, pemahaman kita tentang plastik sebagai sesuatu yang dibuat dan dikelola oleh manusia sangatlah sempit. Hingga kini, kita belum sungguh-sungguh memahami dari mana plastik itu bermula— baik secara fisis, maupun filosofis.
Yang sering tidak diketahui adalah bahwa materi plastik merupakan hasil sampingan dari proses ekstraksi dan pemurnian karbon fosil yang menggerakkan zaman modern kita. Dan karbon fosil itu sendiri? Ia sesungguhnya merupakan hasil-samping dari kisah planet Bumi — suatu perjalanan panjang menuju biosfer yang semakin hijau — sebuah tindakan ekologis dari Bumi yang sesungguhnya menyimpan banyak pelajaran bagi kita.
Maka, meskipun kita telah terbangun dari tidur panjang dengan menyaksikan takdir akhir plastik, kebangkitan kita yang sejati akan datang melalui pemahaman tentang asal-usulnya. Karena di dalam kisah purba plastik itulah tersimpan kunci untuk memutarbalikkan dampaknya yang mencemarkan — dan, secara kebetulan, memutarbalikkan semua krisis ekologis kita yang lain. Sebab meskipun polusi plastik, pengasaman laut, perubahan iklim, dan kepunahan spesies tampak berbeda dan tak berhubungan, semuanya memiliki penyebab yang sama: ketidakselarasan antara pola proses Bumi dan pola proses manusia modern.
Dengan cara inilah, sebagaimana akan kita lihat dalam bab-bab berikutnya, plastik sesungguhnya menyimpan nilai ekologis yang sama sekali telah diabaikan oleh masyarakat modern kita.
Sebab ketika plastik melewati tangan kita setiap hari, melaluinya kita secara harfiah menyentuh pola yang menggerakkan zaman pengurasan ekologis kita. Tetapi melalui sentuhan itu pula, kita memiliki kesempatan unik untuk mengubah nasib plastik — dan sekaligus mengubah paradigma yang tersembunyi di baliknya, juga di balik dunia modern kita sendiri.
Namun, untuk memahami kesempatan besar ini, kita harus terlebih dahulu melampaui penilaian dan kecaman kita terhadap plastik — dan terhadap diri kita sendiri.
Untuk melakukannya, kita harus kembali dan menelusuri bagaimana plastik pertama kali tiba di tangan kita.
Juga, kita harus kembali ke asal-usul antarbintang planet Bumi.
Sebagaimana akan kita lihat, hanya dengan penyaksian dari bintang-bintang, kita dapat memperoleh perspektif yang cukup luas untuk menatap sekilas jalan hijau ke depan di planet Bumi ini.