Bayangkan
Tractatus Ayyew
Buku Pertama | Bab Satu | Russell Maier & Banayan Angway
1,001 kata
Tractatus Ayyew
Buku Pertama | Bab Satu | Russell Maier & Banayan Angway
1,001 kata
BAYANGKAN SEBUAH DUNIA DI MANA CARA KITA HIDUP senantiasa memperkaya ekosistem yang mana kita juga bagiannya. Dunia di mana rumah tangga dan komunitas kita, sekadar dengan tumbuh-kembangnya, menjadikan biosfer sebagai hunian yang lebih berlimpah, hidup, juga ramah untuk kita dan sesama makhluk lainnya. Dalam dunia ini, alih-alih hanya berupaya mengurangi dampak buruk kita pada lingkungan, kita justru kompak memaksimalkan kontribusi ekologis. Untuk melakukannya, cara kita dalam mengelola materi dan energi tergeserkan. Tak lagi upaya-upaya kita semata beroperasi dalam lingkaran — demikian mereka juga spiral; setiap siklus mengembalikan lebih dari yang ia ambil dan menyebarkan surplusnya. Tak lagi aktivitas kita hanya mengurangi jumlah karbon atau elemen lain yang dilepaskan — demikian mereka juga menangkap dan mengonsentrasikan lebih banyak daripada yang terlepas. Tak lagi kita sekadar berupaya melestarikan dan melindungi bentang Bumi yang kian meningkatkan keragaman organisme — demikian pula kita turut serta dalam prosesnya. Hidup dan berkembang bersama; kesadaran kita akan interkoneksi terus tumbuh, dan dengannya, juga keselarasan siklus aktivitas kita dan ekosistem, ekonomi dan bioma, kemanusiaan dan biosfer — sebuah harmoni yang menjulang bersama kita menuju bintang-bintang.
HARI INI, SEIRING KITA MENJADI semakin sadar terhadap degradasi ekologis sebagai bawaan dari dunia modern kita, kita berhasrat untuk mempertanggungjawabkan kesalahan dan memperbaiki perilaku kita. Namun, seiring rumah dan aktivitas kita bersatu dalam semangat terhadap planet sebagai tempat tinggal bersama, tak pernah sebelumnya sepenting ini untuk menyadari bahwa jalan ke depan sebenarnya sedang kita tapaki. Terpinggirkan dan nyaris terlupakan oleh peradaban modern, bangsa-bangsa kuno — dan yang masih bertahan hingga kini — telah lama menguasai integrasi ekologis mereka hingga mencapai harmoni yang tak mampu dipahami, apalagi dibayangkan, oleh pandangan modern kita. Hanya dengan mampu melihat momen-momen pencerahan ini, barulah kita dapat membayangkan momen kita sendiri. Dan dengan kita mampu membayangkannya, realisasi atas sebuah era hijau untuk semua tidaklah sejauh yang kita kira.
Terinspirasi oleh tradisi hijau dari masyarakat di mana Banayan berasal, yakni Igorot di Luzon Utara,¹ kami melihat bahwa kerinduan dan potensi untuk berkontribusi secara ekologis adalah sesuatu yang menyatukan kita semua di planet Bumi.
Lintas budaya dan benua, kita ingin berkontribusi pada sesuatu yang kita adalah bagiannya: untuk memberikan sesuatu pada komunitas yang kita tempati, untuk harmonis dengan tetangga, menjadi selaras dengan mereka yang berbagi ruang dengan kita. Karena hal itu, seiring dengan semakin jelasnya peran kita dalam ekosistem lokal dan bioma global, semakin jelas pula keinginan kita untuk turut serta secara positif dan berkontribusi pada harmoni, daya hidup, dan kelimpahan di dalamnya.
Banayan dan saya telah melihat bahwa transisi menuju rumah tangga, komunitas, dan segala aktivitas yang di dalam-dan-dari dirinya sendiri adalah kontribusi ekologis merupakan tahap selanjutnya dari kisah skala planet yang arahnya, terlihat secara cukup gamblang, berada di tangan kita.
Lantas, bagaimana cara kita untuk tiba pada rumah hijau bersama yang kita semua rindukan ini?
Satu kata:
Plastik.
Dalam material modern yang problematis inilah terletak jalan kita ke depan.
Sebagaimana mestinya demikian.
Para tukang kebun sejak lama telah berpandangan bahwa masalah selalu adalah solusi — rumput liar, hama, dan polutan, dengan perspektif dan pendekatan lain, adalah nutrisi, pupuk, dan obat-obatan yang membuat kebun menjadi subur.²
Tak ada yang sebanding dengan plastik dalam mengejawantahkan wajah definitif dari zaman modern kita. Berasal dari karbon fosil purba, plastik memungkinkan kita untuk menyentuh kisah primordial yang telah memungkinkan adanya kisah kita sendiri. Dengan diperjualbelikan, plastik adalah manifestasi fisik dari ekonomi petro-kapital yang menggerakkan zaman global kita. Dibuat oleh manusia, sepenuhnya untuk manusia, plastik adalah cerminan jelas atas peradaban modern dan manusia-sentris kita.
Melalui sudut pandang ini, plastik kita sesungguhnya adalah sebuah cermin.
Juga sebuah kesempatan.
Dengan menghadapi kisah miliaran tahun plastik, kita bisa menghadapi kisah kita sendiri dalam bingkai yang sama.
Kemudian, lewat penyaksian pada cerminan (kisah) kita dengan jernih, kita dapat mengenali plastik — dan diri kita sendiri — sekali lagi.
Juga lebih dari itu, kita dapat memperbarui pemahaman kita tentang partisipasi ekologis manusia yang positif: apa sesungguhnya (dan seharusnya) arti dari hijau.
Banayan dan saya, dalam perjuangan untuk mengelola plastik kami sendiri secara positif, menyadari bahwa konsep kontemporer tentang hijau itu kurang memadai dan tidak lengkap.
Dilihat melalui lensa etos ekologis dari masyarakat di mana Banayan berasal, kami memahami bahwa pandangan etis modern atas hijau hanyalah soal mengurangi dampak buruk — sementara konsep tentang kontribusi tak pernah dibayangkan.
Pandangan tentang potensi ekologis manusia seperti itulah yang secara tajam bertentangan dengan pengalaman hidup Banayan dan leluhurnya.
Seperti yang akan kita lihat pada bab-bab selanjutnya, kontribusi ekologis pada kenyataannya telah menjadi tendensi dominan di Bumi — sebuah pola unik keplanetan atas materi dan energi yang, sejak pertama permulaannya, telah meresap dalam seluruh proses, siklus, dan sistem milik Bumi.
Dan milik kita.
Sejauh pola Kebumian ini tercermin dalam nilai dan kebajikan suatu budaya, maka masyarakat yang timbul darinya secara sistematis memperkaya ekosistem tempat mereka berada.
Sebaliknya, sejauh pola suatu budaya berbeda dengan pola Bumi, pengurasan dan degradasi sistematis menjadi akibat tak terelakkan.
Pemahaman tentang pola Kebumian inilah yang akan menjadi tugas utama kami dalam Tractatus Ayyew.
Melalui kombinasi dua perspektif leluhuriah kami — warisan Igorot Banayan dan saya yang Eropa; budayanya yang kinsentris dan saya yang pemukim; latar agrarisnya dan latar industrial saya — kami akan menyelidiki keterbatasan pada pemahaman etis kita yang modern. Secara khusus, kekeliruan ontologis berupa eksepsionalisme manusia yang kami amati ternyata terletak sebagai akar segala masalah ekologis modern kita.
Dengan kekeliruan ontologis ini diakhiri, selanjutnya kami akan memaparkan teori baru tentang hijau, berjangkar pada karakter kosmologis planet kita.
Dituntun oleh wawasan dari bangsa-bangsa hijau, teladan dari makhluk-makhluk yang sangat kontributif, serta wawasan terkini dari ilmu Bumi, akan kami artikulasikan sebaik mungkin setiap lima prinsip yang membentuk pola lima-segi pengayaan ekologis dari planet kita.
Lahir dari proses ini, Silabumi akan membantu kita memahami proses, teknologi, dan upaya modern kita dengan menyediakan cara untuk membedakan mana yang memperkaya dari mana yang mengurangi; mana yang kontribusi ekologis dari mana yang pengurasan; dan mana yang hijau dari mana yang kelabu.
Dengan cara ini, bersama teladan dari Bumi sebagai kompas kita menuju hijau, kita dapat melangkah maju dengan keyakinan dan kejelasan pandangan untuk mengejawantahkan geometri kontribusi dalam segala proses, siklus, dan sistem kita.³
Untuk memulai, marilah kita berjumpa dengan material problematis yang kini begitu kita cintai dan benci itu.