Pengantar

Tractatus Ayyew

&

1,314 kata

“Ayka ta man gagayam ta..."
(Mari, kita saling berbagi kisah…)
― ungkapan Igorot

An unexpected beginning

SAYANGNYA, tidak semua buku memiliki awal yang indah.

A river at a breaking point

Pada 2011, jumlah sandal bekas, popok basah, bungkus dan kantong plastik tak terpakai yang memasuki Sungai Chico telah mencapai titik kritis. Dibanjiri dengan sampah plastik yang terus berdatangan, masyarakat provinsi Kalinga di hilir Filipina mengambil langkah untuk menggugat kota Bontoc di hulu. Wali kota dan gubernurnya secara serius menanggapi tuntutan tersebut dengan mulai menutup banyak tempat pembuangan sampah yang berada di sepanjang aliran sungai yang berkelok melalui wilayah pegunungan terpencil itu.

Namun, ke mana semua plastik kita harus pergi?

Bagi mereka yang hidup di sepanjang sungai, tantangan ini terasa sangat nyata.

Sejak berabad-abad, suku-suku di wilayah tersebut — yang secara kolektif dikenal sebagai Igorot — telah hidup mandiri dengan kuat, relatif terpisah dari wilayah lain di kepulauan Filipina. Dengan kota dan desa mereka yang bertengger di antara deretan pegunungan hijau nan terjal, sebagian besar Igorot tetap terisolasi dan terhindar dari tiga ratus tahun kolonisasi bangsa Spanyol di wilayah selatan. Namun dalam beberapa dekade terakhir, barang-barang modern mulai merambah hingga ke desa-desa terpencil tersebut. Ketika dedaunan, kayu, dan sulur yang telah lama mereka gunakan dapat sepenuhnya terurai secara alami, kini bahan-bahan modern yang asing justru dengan keras kepalanya menolak untuk terurai.

Meski begitu, masyarakat Igorot tidak tinggal diam.

Dalam budaya Igorot, kemampuan untuk menyatu secara ekologis dengan biosfer (dengan kata lain, integrasi ekologis) sangatlah dihargai — sebagaimana pada lukisan dan patung dalam budaya-budaya lain. Alhasil, wilayah ini telah menjadi daerah aktif untuk berbagai inovasi kreatif daur ulang. Di kota, ban bekas dipotong-potong sedemikian rupa untuk dijadikan kursi dan meja. Di area pertambangan, kabel dinamit tak terpakai dianyam menjadi tas punggung tradisional. Di rumah, sedotan dan bungkus plastik dianyam menjadi tikar, tas kecil, dompet, dan berbagai peralatan rumah tangga.

Banayan dan saya terpukau dengan gerakan daur ulang ini, hingga akhirnya kami ikut terlibat di dalamnya. Banayan mulai memasukkan kerajinan dari bahan daur ulang ke dalam kurikulum sekolah, sementara saya terlibat dalam pengembangan desain benda daur ulang agar dapat menjadi produk layak jual. Namun, di hadapan arus plastik bekas yang tiada henti membesar, keberhasilan kami terasa sangat kecil. Seiring memanasnya konflik hukum antara Kalinga dan Bontoc, kami menyadari bahwa mengamankan plastik keluar dari ekosistem lokal agar tidak mencemarinya justru jauh lebih krusial daripada membuat atau mengajarkan pembuatan kerajinan tangan.

Experimenting with ecobricks

Kebetulan saat itu saya dan rekan-rekan sedang bereksperimen dengan teknik baru dari Amerika Selatan, di mana botol plastik diisi penuh dengan pasir untuk dijadikan blok bangunan. Kebetulan pula, lokasi pengambilan pasir di sungai berada tepat di sebelah tempat pembuangan sampah. Setelah membuat beberapa “bottle-brick” berisi pasir, kami memutuskan untuk mencoba mengganti isinya dengan plastik bekas.

Eksperimen itu berhasil!

Tidak hanya kami berhasil membuat “bottle-brick” berisi plastik yang sama efektifnya dengan yang diisi pasir, pada saat yang sama kami juga berhasil mengamankan sejumlah besar plastik yang jika dibiarkan dapat tersebar di sungai.

Di rumah, saya mulai bereksperimen dengan mengemas plastik bekas saya sendiri ke dalam sebuah botol. Dari hasilnya saya membuat bangku kecil di taman. Saya dan tetangga saya sangat senang dengan hasil ini. Lantas, sekolah terdekat yang sedang berupaya mengelola sampah dari ratusan muridnya, menanyakan bagaimana cara membuatnya. Setelah sehari kegiatan pengepakan plastik, membuat “bottle-brick”, dan membangun komposter, semua orang bergembira dengan alternatif sederhana ini dibandingkan membuang atau membakar plastik.

Ketika teknik ini mulai menyebar ke sekolah-sekolah lain, Banayan turut melibatkan diri. Ia melihat potensinya untuk meningkatkan kesadaran tentang bahaya plastik. Lantas, kami bekerjasama untuk menyusun sistem pelaporan dan buku panduan. Melalui koordinasinya, apa yang kemudian dikenal sebagai “ecobricking” (kegiatan membuat ecobrick) mulai menyebar ke ratusan sekolah di provinsi tersebut.

Lalu ke ribuan.

Dalam satu tahun, seluruh departemen pendidikan di Filipina Utara, gereja Katolik dan Protestan, serta berbagai pemerintah kota dan provinsi turut bergabung; bahkan kantor walikota Bontoc dan gubernur provinsi juga! Sepanjang tahun-tahun berikutnya, ecobricking dengan cepat menjadi alternatif bagi jutaan warga Filipina untuk mengelola plastik mereka.

Banayan dan saya menyaksikan penyebaran gerakan ecobrick ini dengan gembira. Namun, juga dengan kecemasan.

Kendati awalnya hal ini terlihat sebagai kemenangan besar mengingat banyak sekali plastik telah tertampung dan teramankan dari kemungkinannya untuk mencemari sungai, persoalan yang ada masih jauh dari selesai. Di kemudian hari, kami memahami bahwa kuatnya daya tahan plastik merupakan fenomena sosial-fisikal dengan banyak aspek: seberapapun kita mengharapkannya, plastik tidak lantas menghilang setelah kita membuangnya — maupun setelah kita mengamankannya dalam sebuah botol.

Sementara gerakan ecobrick terus menyebar, kami mengamati bahwa terkadang, bersama penyediaan solusi alternatif untuk plastik, konsumsi berkelanjutannya justru terlegitimasi.

Di beberapa sekolah kami melihat lonjakan pembelian minuman ringan demi mendapatkan botol untuk dijadikan wadah dari ecobrick. Di lokasi lain, konsumsi makanan ringan meningkat agar tersedia bungkus plastik bekas untuk ditumpuk di dalam botol seperti itu. Di tempat lain lagi, kami menemukan penggunaan semen padat-karbon sebagai perekat dalam konstruksi ecobrick.

Fenomena ini membuat kami gelisah. Apakah ecobrick benar-benar memberikan jasa ekologis? Jika ya, bagaimana tepatnya? Dan jika tidak, mengapa?

Reflections on green solutions

Selama satu dekade terakhir, pertanyaan-pertanyaan ini mendorong kami untuk meninjau kembali bukan hanya ecobrick sebagai sebuah “solusi untuk plastik”, tetapi juga apa sebenarnya yang dimaksud dengan “solusi ekologis”.

Sebagai istilah singkat untuk solusi ekologis, istilah “hijau” (“green”) menjadi bagian penting dalam refleksi kami.

Khususnya, kami mulai bertanya pada diri sendiri: Apa sebenarnya arti hijau? Dan, lebih tepatnya, apa saja prinsip dan parameter yang membuat suatu proses benar-benar hijau?

Sementara Banayan dan saya terus membuat ecobrick dari plastik bekas kami sendiri, kami semakin curiga bahwa menyelesaikan masalah plastik bukanlah sekadar soal mengamankannya dalam bentuk bata (brick). Masalahnya jauh lebih dalam, hingga menyentuh kebiasaan kita, relasi, dan sistem yang sejak awal menghasilkan plastik itu sendiri.

Pertanyaan-pertanyaan ini kemudian mendorong kami untuk menyoal: Bagaimana tepatnya seseorang dapat mengukur seberapa hijau suatu upaya, proses, atau proyek? Dan, bagaimanakah kebalikan darinya? Apa sesungguhnya arti dari hijau (green) dan kelabu (grey)?

Pada tahun 2017, film dokumenter David Atenborough yang berjudul Blue Planet II menampilkan lautan dan pantai yang dipenuhi plastik yang seharusnya dapat didaur ulang. Di Inggris, para penonton film itu mencari alternatif terhadap sistem daur ulang (recycling); mereka mulai membuat ecobrick. Melihat hal ini, Banayan dan saya menyadari bahwa gagasan dan praktiknya yang berasal dari budaya masyarakat adat memiliki relevansi yang sangat besar bagi masalah modern.

Ketika kami menulis esai dan laporan tentang penyebaran gerakan ecobrick, kami menyadari bahwa perpaduan latar belakang kami yang sangat berbeda memberi perspektif penting bagi pertanyaan-pertanyaan mengenai parameter dan prinsip untuk hijau.

Sementara leluhur Banayan telah memandang pegunungan Sagada sebagai rumah mereka selama banyak generasi, leluhur saya bermigrasi dari Eropa ke Amerika hanya beberapa generasi yang lalu. Sementara leluhur Banayan telah mewariskannya etos ekologis yang menghubungkan dirinya dan masyarakatnya dengan tanah tempat mereka hidup, saya tumbuh besar tanpa adanya hubungan leluhuriah semacam itu. Sebaliknya, melalui budaya dan pendidikan modern, saya mewarisi tradisi kemajuan ilmiah dan pendekatan analitis khas barat terhadap hubungan seseorang dengan sekitarnya — tumbuhan, hewan, dan tanah.

Walaupun begitu, ketika kami bergulat dengan masalah plastik, keyakinan kami bertemu pada satu titik: kebijaksanaan pada budaya masyarakat adat sangatlah penting untuk memberi makna dan substansi pada konsep modern kita tentang hijau.

Lahirlah Tractatus Ayyew dan teori Silabumi yang kami paparkan dalam halaman-halaman kemudian.

Dalam bahasa Latin, kata tractatus merujuk pada tradisi filosofis berupa sebuah risalah — penjelasan sistematis mengenai suatu konsep. Dalam bahasa Kan’kan’ue milik masyarakat Igorot, kata ayyew merujuk pada kebajikan integrasi ekologis yang bersifat siklik dan menjadi pedoman budaya mereka.

Etos ayyew inilah inspirasi bagi teori tentang hijau dan kelabu yang dipaparkan dalam tiga buku Tractatus Ayyew.

Pada Buku Pertama, kami paparkan latar belakang, konteks, dan fondasi lima-segi untuk etika yang berjangkar pada Bumi ini.

Pada Buku Kedua, kami dedikasikan satu bab untuk menjelaskan setiap dari lima Silabumi. 

Pada Buku Ketiga, kami buat kesimpulan dengan lima-segi solusi Kebumian untuk plastik.

Dengan cara ini, melalui pemaparan sistematis dalam Tractatus Ayyew tentang segi-segi fungsional pada upaya yang sungguh-sungguh hijau, kami bertujuan untuk menyediakan serangkat alat alih-alih suatu manifesto.

Harapan kami adalah bahwa dengan terjelaskannya prinsip-prinsip Kebumian dan persoalan plastik, maka berbagai rintangan kelabu lainnya dapat dihadapi dengan kepercayaan diri dan kejernihan pandangan, menuju corak hijau Kebumian.

Catatan Kaki